Jumat, 07 Januari 2011

SEGERALAH TERANGI KEGELAPAN

“Siapa yang bisa menandingi wahai anak cucu Adam dalam hal bertaubat ?Engkau bisa datang ke mihrab kapanpun engkau mau, untuk menghadap Tuhanmu. Tak ada apapun yang membatasi antara dirimu dan tuhanmu. Tak ada perantara. Tak ada penterjemah.” ( Bakr bin Abdillah Al Muzani)

“Jangan melangkah di jalan keputusasaan. Di alam ini terhampar berjuta harapan. Jangan pergi ke arah kegelapan. Di alam ini teradapat banyak cahaya…” Kalimat ini di tulis besar-besar di sebuah papan tulis oleh seorang ulama. Sebelum menuliskan papan indah itu, dikisahkan seorang muridnya bertanya, “wahai syaikh, bila engkau sudah tidak lagi bersama kami, kalimat apa yang dapat kami pegang untuk berhasil menjalani hidup ini?”

Semoga Allah masih mempersatukan hati kita, wahai saudaraku
Putus asa simbol ketidak berdayaan dan gelap adalah simbol kesesatan. Dalam hidup ini, ternyata ada sebagian orang yang lebih cenderung asyik dengan keputusasaan, kekecewaan dan kehilangan harapan. Meskipun kalau mau, dia bisa mendapatkan banyak keadaan yang membuatnya optimis, bersemangat dan penuh harapan. Ternyata memang ada pula sekelompok orang yang cenderung asyik berada dalam gelap. Meskipun kalau mau, dia sebenarnya bisa mengetahui betapa luasnya hidup dan betapa banyak cahaya yang bisa menerangi jalan dihadapannya. Orang yang sudah putus harapan dan lebih suka berada dalam kegelapan adalah kelompok orang yang sama sekali tak merasakan bahagia dan indahnya hidup.
Sederhana sekali ibnul Qoyyim rahimahullahu taala memberi jawaban tentang sumber kebahagiaan hidup, “Allah”. Orang yang telah memiliki rahasia kebahagiaan itu, menurut ibnul Qoyyim, akan menjadi raja di dunia dan di akhirat. Di dunia, orang itu disegerakan oleh Allah memperoleh surga dunia, dan di akhirat Allah menyediakan surga Akhirat. “Hatinya memandang, kefakiran adalah kekayaan sesaat dirinya bersama Allah. memandang kekayaan itu kefakiran saat dirinya tidak bersama Allah. Kemuliaan itu hina tanpa Allah. Kehinaan itu mulia bersama Allah. Kenikmatan itu adzab tanpa Allah. Adzab itu nikmat bersama Allah. Kesimpulannya ia tidak melihat kehidupan kecuali dengan Allah. Merekalah orang-orang yang telah mendapatkan dua surga. Surga di dunia yang disegerakan Allah ketika dia hidup di dunia dan surga di akhirat yang menantinya”. (Nafa-5is al-Fawaid, 202)
Saudaraku.
Tanamkan keyakinan bahwa Allah bersama kita, ketergantungan hati kepada Allah, sebagaimana diuraikan ibnul Qoyyim, hanya bisa dimiliki oleh seseorang yang sungguh-sungguh mendidik jiwanya. Membina dan mendidik jiwa dengan selalu mengaitkan segala persoalan dari sudut yang benar.
Kebenaran memandang hidup itulah yang menjadikan seseorang ketenangan jiwa, ketentraman, kebahagiaan, perasaan lezat dan iman. Apapun yang terjadi. Seperti diungkapkan ibnul Qoyyim. Selanjutnya, “Orang-orang seperti ini tidak merasa gelisah ketika orang lain gelisah. Tidak takut ketika orang lain takut, tidak menangis ketika orang lain menangis. Wajah dan hati mereka bersinar karena cahaya Allah. Lisan mereka tidak lepas dari dzikir kepada Allah. Hati mereka dekat dengan masjid. Mereka sungguhsungguh berpacu dengan waktu mengisi catatan amal mereka di hari akhir, disanalah inti kebahagiaan”.
Saudaraku,
Keputusasaan bisa saja terjadi tanpa disadari. Begitupun kegelapan. Kerap kali kegelapan itu melalaikan. Seperti orang mabuk, tak sadar dirinya mabuk. Keburukan selalu menarik pelakunya untuk melakukan keburukan yang lain dan menjadikan pelakunya lupa akan apa yang dilakukan. Perhatikan firman Allah swt dalam surah Ash-Shaff ayat 5 yang artinya: “Maka ketika mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka (dari kebenaran)”.
Tapi jangan lupa, prinsip itu juga berlaku dalam kebaikan. Kebaikan selalu mendorong pelakunya untuk melakukan kebaikan yang lain, sehingga menjadikan pelakunya selalu bersemangat untuk melakukan kebaikan demi kebaikan. “Jika engkau melihat seseorang melakukan keburukan, ketahuilah bahwa keburukan itu mempunyai saudara-saudara keburukan yang lain. Dan jika engkau melihatnya melakukan kebaikan, maka ketahuilah kebaikan itu akan mempunyai saudara-saudara kebaikan yang lain,“ kata Zubair bin Awwam (tahdzibu tahdzib 7/183).
Said bin Zubair, salah seorang imam generasi tabi’in mengatakan, “Sesungguhnya termasuk pahala kebaikan adalah kebaikan setelahnya. Dan sesungguhnya termasuk akibat keburukan adalah keburukan setelahnya.” (Majmu fatwa Ibnu Taimiyah 10/11).
Syaikh Muhammad Ahmad Rasyid, penulis kitab al-awa’iq, mengisahkan sebuah ironi. Saya, tulisnya, telah menyaksikan langsung bagaimana orang-orang yang berada dalam komunitas orang-orang baik kemudian mengundurkan diri dari lingkungan itu. Ia kecewa dan putus asa karena keinginannya tidak ia peroleh. “Selanjutnya orang itu dimulai tidak melakukan amar ma’ruf, lalu meninggalkan sholat wajib dan mencukupkan diri hanya sholat jumat saja. Tak sampai disitu akhirnya ia juga tidak puasa di bulan ramadhan bahkan kemudian menjadi terbiasa melakukan sesuatu yang membatalkan puasa di siang hari. Ia menghisap rokok dengan tenang dan menghembuskan asapnya kepada orang-orang yang berpuasa.”
Saudaraku,
Iman dan hati kita ibarat pelita. Bila cahayanya meredup berarti kita akan larut dalam gelap dan kehilangan petunjuk dalam menjalani kehidupan. Dan semakin cahayanya menyala, berarti kita semakin bisa melihat segala sesuatu dihadapan kita dengan jelas.
Wajar saja bila pelita itu meredup, karena memang begitulah tabiat iman sebagaimana yang digambarkan oleh rasulullah saw, bahwa iman itu terkadang bertambah dan berkurang. Tapi tentu kita harus berupaya agar ia tidak meredup terus menerus bahkan padam. Hanya ada satu cara untuk menyalakan kembali pelita yang meredup itu: taubat.
Seorang ulama Bakr bin Abdillah al-Muzani menegaskan, “Siapa yang bisa menandingi wahai anak cucu Adam dalam hal bertaubat ?Engkau bisa datang ke mihrab kapanpun engkau mau, untuk menghadap Tuhanmu. Tak ada apapun yang membatasi antara dirimu dan tuhanmu. Tak ada perantara. Tak ada penterjemah.”

0 komentar:

Poskan Komentar