Sabtu, 05 Desember 2009

REFLEKSI FILM THE OTHER BOLEYN GIRL

“Raja william Henry VIII merupakan raja yang memiliki ratu dan banyak selir, tapi belum memiliki anak laki-laki. Keinginan untuk mendapatkan anak laki-laki tersebut yang membuat raja Henry VIII berulang-ulang kali mengumpulkan wanita di kerajaannya. Boleyn sister, yaitu Mary dan anne adalah anak keturunan Boleyn yang dibesarkan dalam keluarga bangsawan. Anne adalah anak tertua sedangkan mary adalah anak kedua dari Boleyn. Awalnya Mary menikah dengan seorang lelaki bangsawan yang sederhana, Kemudian dia dinikahkan kembali dengan William Henry VIII dengan insentif dari paman dan ayahnya, bahwa dia akan mendapatkan posisi ratu (jika melahirkan anak laki-laki). Anne merupakan anak tertua yang telah diamanahkan untuk mendapatkan hati raja Henry kecewa dan melakukan manuver politik yang cukup tajam di lingkungan kerajaan. Ketika Mary melahirkan anak laki-laki yang diidam-idamkan oleh raja Henry VIII, anne berhasil mendapatkan perhatian dan cinta dari lelaki penuh nafsu Henry VIII. Upaya yang dilakukan oleh Anne antara lain membuat Mary kembali ke Rochfort, tempat dimana ia dan anaknya akan tinggal bersama sendirian, mengusik tahta ratu Katherine sehingga bisa dia duduki, dan berharap bisa melahirkan anak laki-laki untuk mengamankan posisi penting diri dan keluarganya di kerajaan Inggris. Rasa sakit dan cemburu menyelimuti dada ratu Mary yang sudah melahirkan darah daging Henry VIII, dimana keinginan untuk memperoleh anak laki-laki telah tenggelam dalam nafsu kebinatangan yang ada di bawah perut raja Henry VIII.”
“Akhirnya Henry VIII tidak dapat menahan nafsunya, walaupun mengetahui dampak negatif (diasingkan oleh kekuasaan Paus dari gereja Roma, dan sekitarnya), Henry akhirnya menceraikan Katherine dan menikah secara resmi dengan Anne Elizabeth. God have a plan, pernikahan Henry dengan Anne justru mendapat berbagai macam tekanan dari rakyat dan kerajaan yang lain. Anne mendapatkan julukan sebagai penyihir, dan Henry semakin kehilangan wibawa di depan rakyatnya. Singkat cerita, Anne hanya melahirkan seorang putri yang bernama Elizabeth, sedangkan pada kehamilannya yang kedua dia mengalami keguguran.”
Inilah fakta sejarah yang tidak dapat diputar balikkan, ketika nafsu menjadi Tuhan atas kuasa diri kita, maka tanpa menimbang-menimbang seorang raja yang bijak menjadi terombang-ambing dibuatnya. Nafsu degil menjadi kenderaan bagi syaithan untuk menjatuhkan martabat dan harga diri manusia di depan Allah SWT dan seluruh penduduk langit dan bumi, sehingga akal yang sehat dan cerdas menjadi tunduk di hadapan nafsu yang membuncah kuat di dada manusia. Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin mengatakan bahwa dalam diri manusia terdapat 4 sifat yang selalu berusaha mendominasi dan menguasai manusia, yaitu sifat insaniah, sifat Rabbaniah, sifat syaithaniyah, dan kebinatangan. Jika sifat syaithan dan kebinatangan menguasai manusia, maka manusia selayaknya Namrud, Fir’aun, kaum sodom dan gomorah, Abu jahal, Abu lahab, Umayyah bin khalaf, dan lain-lain yang mencoba memutarbalikkan kebenaran demi pemuasan kepentingan “dua lubang” (mulut dan alat kelamin) yang ada di dalam dirinya. Sebaliknya jika sifat Insaniah dan Rabbaniah mendominasi di dalam diri manusia, maka dia akan menjadi manusia yang memiliki integritas dan mampu menjalankan tugasnya sebagai khalifah di atas muka bumi ini.
Rasulullah SAW, Generasi Sahabat, tabi’in, dan ulama-ulama terdahulu telah memberikan keteladanan yang kuat mengenai masalah (nafsu) ini. Rasulullah SAW bersabda “celakalah hamba dirham, celakalah hamba dinar, celakalah hamba selimut”. Pernyataan yang tegas ini memberikan isyarat kepada kita bahwa tahta, harta dan nafsu sex yang tidak terkontrol akan memberikan kecelakaan dan musibah bagi yang menjadi hamba bagi ketiga aspek tersebut. Cukuplah kaum-kaum terdahulu yang telah dihancurkan oleh Allah SWT menjadi pelajaran bagi kita.
Kita bisa melihat bagaimana bedanya antara pola kepemimpinan yang dicontohkan oleh para sahabat, dimana sifat rabbaniah dan insaniah begitu kuat di dalam diri mereka dengan raja-raja Mongol, Eropa dan sebagainya yang memiliki dominasi sifat Syaithan dan kebinatangan di hati mereka. Dalam setiap peperangan Umar bin Khattab memberikan contoh kepada kita dengan melarang keras kepada setiap pasukannya untuk membunuh orang yang lemah dan menodai kuil serta tempat ibadah lainnya.
Berbeda dengan tindakan penindasan dan kebuasan yang dilakukan Alexander, Caesar, Atilla, Ghengiz Khan, dan Hulagu. Ketika Alexander menaklukan Sur, sebuah kota di Syria, dia memerintahkan para jenderalnya melakukan pembunuhan massal, dan menggantung seribu warga negara terhormat pada dinding kota. Demikian pula ketika dia menaklukan Astakher, sebuah kota di Parsi, dia memerintahkan memenggal kepala semua laki-laki. Raja lalim seperti Ghengiz Khan, Atilla dan Hulagu bahkan lebih ganas lagi. Tetapi imperium mereka yang luas itu hancur berkeping-keping begitu sang raja meninggal. Sedangkan penaklukan oleh khalifah Islam kedua berbeda sifatnya. Kebijaksanaannya yang arif, dan administrasi yang efisien, membantu mengonsolidasikan kerajaannya sedemikian rupa. Sehingga sampai masa kini pun, setelah melewati lebih dari 1.400 tahun, negara-negara yang ditaklukannya masih berada di tangan orang Muslim. Umar al-Faruk sesungguhnya penakluk terbesar yang pernah dihasilkan sejarah.
Begitupun dengan “raja-raja” (pemimpin negara) hari ini, mulai dari perang dunia I sampai II, terjadi banyak pelanggaran hak asasi manusia di berbagai daerah yang mereka perangi, negara yang diserang menjadi porak-poranda, tempat-tempat ibadah dibumi hanguskan, dan orang-orang yang lemah menjadi sasaran utama penyiksaan oleh mereka yang dikuasai oleh sifat syaitaniah dan kebinatangan. Sehingga dunia yang semula indah, menjadi berlumuran darah dan panas dengan api peperangan yang selalu dikobarkan, oleh mereka yang memuja syaitan dan nafsu binatang mereka.
Allah SWT telah mengabarkan kepada kita bagaimana keadaan manusia yang memiliki sifat syaitaniah dan kebinatangan di dalam diri mereka,
“Dia berkata: "Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat.” (Al-Naml: 34)
“yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan." (As-Syuara: 152)
“lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu,” (Al-Fajr: 12)
“Dan bila dikatakan kepada mereka:"Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi". Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”. (Al-Baqarah: 11)
Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik”. (Al-A’raaf: 56)
“Dan apabila kamu menyiksa, maka kamu menyiksa sebagai orang- orang kejam dan bengis.” (Asy-Syuara: 130)
“Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang- orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat ma'siat?” (Shaad: 28)
Maha benar Allah atas segala firmanNya. Teman-teman sekalian mari kita bertaubat kepadaNya, dan meningkatkan ketaqwaan kita kepadaNya dengan sebenar-benarnya taqwa, agar dengan ketaqwaan itu kita mampu mengalahkan sifat syaithaniah dan kebinatangan diri menuju kepada sifat insaniah dan rabbaniah. Sehingga tugas kita sebagai Khalifah – yaitu beribadah, memelihara hukum Allah, dan menyejahterakan isi bumi – di atas muka bumi ini mampu kita kerjakan dengan baik.
“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (At-Taubah: 128)
“Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul." Mereka menjawab: "Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya." Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?.” (Al-Maidah: 104).
“Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah." Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)." (Ali-Imran: 64).

0 komentar:

Poskan Komentar