Sabtu, 05 Desember 2009

pornografi anak

Pornografi sangat luas cakupannya, beragam variasi dari pornografi anak sampai lansia pun ada. Pornografi anak sangat erat kaitannya dengan kekerasan atau pemaksaan seksual pada anak. Biasanya orang yang menghasilkan gambar porno anak, orang tersebut harus menyerang atau memaksa anak, dengan menyuruh anak untuk berpose sensual, dan setelah semua itu dilakukan individu tersebut mengambil gambar dari pose anak tersebut.
Inividu yang menonton atau melihat pornografi anak berkaitan dengan minat dan perilaku seksual individu yang melihatnya, perilaku melihat ini biasanya disusul oleh perilaku masturbasi dan meningkatkan minat untuk melakukan hubungan seksual dengan anak dibawah umur. Pornografi anak memberikan atau menyediakan sebuah fungsi utama dalam menimbulkan dan meningkatkan fantasi seksual pada diri individu. Bahkan pada level seperti ini, orang tidak hanya pasif dalam berperilaku ketika melihat pornografi anak, tetapi tontonan tersebut akan berpengaruh pada perilaku seksual.
Menurut pandangan hukum, pornografi anak (gambar alat reproduksi atau kelamin secara eksplisit) dan child erotica (segala materi yang berhubungan dengan anak, dimana material tersebut menyediakan atau memberikan tujuan seks pada individu). Hukum mengkategorisasi jenis-jenis atau tahapan dari kasus pornografi anak seperti:
1. Indicative, yaitu material atau bahan yang berisikan gambar seksual anak dimana anak tersebut berpose sensual tanpa melepaskan pakaiannya
2. Indecent, yaitu segala material yang berisikan gambar telanjang anak
3. Obscene, yaitu segala material yang berisikan perilaku seksual anak.
Beberapa negara telah membuat aturan mengenai pornografi anak, seperti negara Irlandia, yang menyatakan bahwa segala perilaku menyebarkan atau mempromosikan seksual abuse pada anak, termasuk mencetak dan dan atau merekam perilaku seksual atau organ kelamin anak. Jadi definisi hukum mengenai pornografi anak haruslah objektif dan diekspresikan melalui istilah yang memberikan aplikasi yang bagus dan sesuai dalam proses penegakkan hukum itu sendiri.
Perspektif psikologi memandang pornografi anak sebagai sebuah teks atau gambar seperti foto, slide, film, video, atau program komputer, yang bertujuan untuk membangkitkan perasaan seksual, fantasi, atau respon didalam diri orang dewasa. Banyak pendekatan yang mencoba menjelaskan pornografi anak. Pendekatan behavior dan empirisme menjelaskan bahwa individu yang sering menikmati pornografi anak akan timbul minat seksualnya untuk berhubungan dengan anak-anak.
Pembahasan diatas sebenarnya mengarahkan kita agar tidak melegalkan pornografi anak, karena selain berdampak buruk pada diri individu, pornografi juga akan mempengaruhi pola pemikiran (budaya, norma, dan nilai) lingkungan. Sehingga sikap yang tepat jika kita membuat sebuah aturan yang tegas tentang pornografi anak itu sendiri.
Menurut aliran Behavioristik, lingkungan merupakan pengaruh yang sangat besar dalam membentuk perilaku pada diri individu. Jika pornografi telah merambah dan mengganti pola pemikiran masyarakat yang semula sangat menolak hal tersebut menjadi diterima, maka secara tidak langsung moral yang terbentuk pada diri masyarakat akan rusak.

0 komentar:

Poskan Komentar