Sabtu, 05 Desember 2009

pandangan psikoanalisa terhadap agama

A. Gambaran singkat tentang Psikoanalisa
Psikoanalisa dikembangkan oleh Sigmund Freud, seorang psikiater Austria. Aliran ini menggunakan dasar-dasar tinjauan klinis-psikiatris dalam pengembangan psikologi. Dasar pemikiran Freud adalah bahwa sebagian besar perilaku manusia berasal dari proses yang tidak disadari (unconscious processes). Yang dimaksud Freud dengan proses tidak sadar ialah pemikiran, rasa takut, dan keinginan-keinginan yang tidak disadari seseorang memiliki pengaruh pada perilakunya, terutama pengaruh negatif berupa hasrat yang mengganggu keseimbangannya.
Secara psikologis, gangguan jiwa yang pada akhirnya melahirkan tindakan devian (menyimpang) yang dialami manusia pada masa dewasa ditimbulkan oleh karena frustasi kebutuhan seksual yang dialaminya pada masa kanak-kanak. Freud meyakinkan mengenai demikian pentingnya perkembangan masa kanak-kanak, sehingga, jika seorang anak tidak mengalami rangkaian tingkatan-tingkatan seksual secara wajar, maka ia akan mengalami tingkah laku yang menyimpang ketika memasuki usia dewasa.
Dalam perkembangan selanjutnya, Freud mengemukakan teori tentang Id (dorongan-dorongan naluri), Ego (aku), dan Superego (hati nurani berdasarkan aturan/norma) sebagai struktur kepribadian.

B. Pandangan Psikoanalisa terhadap Agama
Dalam penelitian terhadap agama, perhatian Freud banyak tertumpah kepada aspek-aspek sosial dari agama itu. Misalnya dalam menganalisa agama orang-orang primitive, yang diambilnya adalah sembahan Totem dan Taboo. Maka dibuatnya perbandingan-perbandingan antara tingkah laku orang-orang yang terganggu jiwanya dengan orang-orang primitif, maka ditemukannyalah hubungan antara ”oedipux kompleks” dengan upacara-upacara agama.
Yang banyak menarik perhatian Freud adalah ”totem” sebagai sistem sosial yang mula-mula terdapat dalam kehidupan primitif, dan ternyata Totem itu adalah suatu fenomena sosial yang tersimpul padanya permulaan sistem masyarakat dengan agama sederhana yang dikendalikan dengan beberapa larangan-larangan keras (taboo). Barang suci pada sistem itu selalu hewan, yang disangka oleh suku itu bahwa mereka berasal dari hewan tersebut.
Dua hal yang sangat penting yang dilarang dalam agama Totem itu ialah membunuh hewan totem dan hubungan seksuil dengan wanita yang sama-sama dari marga satu totem. Hal tersebut berhubungan dengan dua unsur kompleks Oedip (yang ingin membunuh bapak dan kawin dengan ibu), karena itulah teori Freud tentang totem (bentuk primitif dari agama), hanyalah suatu usaha pembelaan terhadap dorongan-dorongan seksuil dan agresi yang terkandung dalam kompleks oedip. Bangsa-bangsa primitif melakukan hal tersebut dengan terang-terangan maka dipandang sucilah hewan totem, sebagai lambang dari bapak pertama dari keluarga/warga, dan penganalisaannya terhadap ketakutan anak-anak akan binatang-binatang adalah karena ia melambangkan bapak, ketakutan oedip.
Di antara faktor yang mendorong Freud untuk lebih mempercayai bahwa ada hubungan antara Totem dan Oedipus Kompleks ialah upacara totem, yang merupakan bagian penting dari agama totem yaitu dimana hewan totem yang dipandang suci oleh marga tersebut, sekali setahun dibunuh dalam suatu upacara khusus, dimana seluruh anggota hadir, setelah binatang itu dibunuh lalu dagingnya dimakan bersama, kemudian meratap kepadanya dan sesudah itu pesta besar.
Setelah memperhatikan hal tersebut terbayanglah oleh Freud bahwa manusia itu, lama hidup sebagai golongan, yang terpisah-pisah di bawah kekuasaan laki-laki yang kuat, bengis dan cemburu. Orang tersebut adalah kepala keluarga besar, yang sangat berkuasa dan menguasai semua wanita-wanita, sehingga anak-anaknya merupakan saingan-saingan yang berbahaya terhadapnya, maka mereka dibunuh atau dibuangnya jauh-jauh. Akan tetapi anak-anak itu berkumpul dan bersatu pada suatu hari untuk membunuh ayah mereka, ayah yang pada pandangan mereka adalah musuh, tapi juga tauladan yang akan dicontoh. Setelah bapak itu terbunuh, timbullah perselisihan di antara mereka, dan mereka tidak mampu memelihara apa yang mereka warisi. Kemudian setelah penyesalan dan kekecewaan yang lama, mereka dapat memperbaiki hubungan sesama mereka, maka dibuatlah suatu peraturan yang akan mengikat dan akan mempersatukan mereka, yaitu peraturan totem, yang akan menjaga, jangan sampai terjadi persengketaan karena wanita. Dan bersepakatlah mereka mengharamkan wanita, yang karenanya bapak mereka terbunuh (melarang kawin dengan satu marga), hendaklah mereka mencari wanita dari marga lain, inilah permulaan perkawinan keluar (exogami) pada agama totem.
Dari pandangan inilah Freud dan pengukutnya mendapati inspirasi untuk mengatakan bahwa dasar psikologi dari agama Kristen, seperti yang terdapat dalam agama totem dan upacara Totem itu juga didapati dalam agama Kristen dengan sedikit perubahan.

C. Perbandingan Agama dengan gangguan jiwa (neurotik)
Freud sebagai tokoh Psikoanalisa menganggap bahwa kepercayaan agama sebagai kekeliruan. Agama adalah takhayul. Namun pada saat yang sama, ia melihat agama sebagai takhayul yang menarik dan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan penting tentang manusia.
Kenapa manusia mau mempercayai agama, bahkan dilakukan dengan kesungguhan yang mendalam, padahal agama adalah kekeliruan? Jika memang agama itu tidak rasional, lantas kenapa manusia masih membutuhkannya? Dan kenapa mereka masih memegangnya? Dengan menggunakan kacamata psikoanalisa, Freud berani menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut secara gamblang.
Dalam sebuah artikel Freud yang diterbitkan dengan judul Obsessive Actions and Religious Practices (1907), dia menyimpulkan perilaku orang beragama mirip dengan tingkah laku pasien neurotisnya. Misalnya, keduanya sama-sama menekankan bentuk-bentuk seremonial dalam melakukan sesuatu, dan sama-sama akan merasa bersalah seandainya tidak melakukan ritual-ritual tersebut dengan sempurna.
Pada kedua kasus tersebut, upacara-upacara yang dilakukan juga diasosiasikan dengan dorongan represi dasariah. Gangguan psikologis biasanya muncul dari ketertekanan hasrat seksual, sedangkan dalam agama sebagai akibat ketertekanan diri (ke’aku’an), yaitu pengontrolan terhadap insting-ego. Jadi, kalau represi seksual terjadi dalam gangguan obsesi mental diri seseorang, maka agama yang dipraktekkan oleh lebih banyak kalangan bisa dikatakan sebagai gangguan obsesi mental secara universal.
Perbandingan ini merupakan tema kunci dalam seluruh tulisan Freud tentang agama. Dalam pandangannya, perilaku agama selalu mirip dengan penyakit jiwa.

SUMBER:

Azhari, A. 2004. Psikologi Umum dan Perkembangan. Jakarta: Teraju
Daradjat, S. 1996. Ilmu Jiwa Agama. Jakarta: PT. Bulan Bintang
Kung, H. 2003. Sigmund Freud vis a-vis Tuhan. Diterjemahkan oleh Edi Mulyono. Yogyakarta: IRCiSoD

0 komentar:

Poskan Komentar