Sabtu, 05 Desember 2009

la taghdab

Dari Abu Hurairah rodhiallohu ‘anhu, ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam, “Berilah aku wasiat.” Rosululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan marah!” Dia bertanya berulang-ulang dan tetap dijawab, “Jangan Marah!” (HR Bukhori)

Marah adalah sesuatu yang fitrah dalam diri manusia. Dalam ilmu psikologi terdapat 3 emosi dasar yang dimiliki oleh manusia, yaitu marah, cinta dan takut. Ketiga emosi ini merupakan emosi dasar yang mempengaruhi diri manusia, dan sekaligus membuat berbagai emosi yang lain – misalnya, cemas (gabungan antara rasa cinta dan takut atau marah dan takut), sedih, dan sebagainya – sehingga komunikasi manusia dengan manusia lain dapat terbantu dengan ekspresi non verbal ini.

Agresi merupakan kata yang selalu dilekatkan dengan marah. Perlu kita bedakan antara agresi dan marah. Agresi menurut Freud (Chaplin, 1995) adalah proyeksi dari naluri kematian (Thanatos), sedangkan menurut Adler (Chaplin, 1995) adalah perwujudan kemauan untuk berkuasa dan menguasai orang lain. Murray (Chaplin, 1995) juga mendefinisikan agresi sebagai kebutuhan untuk menyerang, memperkosa atau melukai orang lain, meremehkan, merugikan, mengganggu, membahayakan, merusak, menjahati, mengejek, mencemoohkan, atau menuduh secara jahat, menghukum berat, atau melakukan tindakan sadistis lainnya.

Secara teoritis model emosi secara umum adalah sebagai berikut Persepsi – keyakinan – perasaan – intensi perilaku – perilaku. Jika seseorang memiliki persepsi yang keliru terhadap lingkungan, dimana individu tersebut memiliki keyakinan yang kuat (membenarkan apa yang dia yakini) terhadap keadaan tersebut, ditambah dengan diperkual oleh perasaan marah, maka agresivitas dapat dimunculkan dalam bentuk perilaku.

Inilah makna ilmiah yang disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW kepada kita untuk mengendalikan kemarahan kita, sampai-sampai nabi SAW mengulanginya berulang-ulang dalam haditsnya. Para ulama (Syaikh Shalih) menjelaskan kepada kita bahwa perintah Rasulullah SAW untuk tidak marah mengandung dua pengertian, yakni:

1. Tahanlah marah, yaitu ketika ada sesuatu yang membuat marah maka berusahalah untuk tidak melampiaskan kemarahannya.

2. Menghindarkan diri dari sebab-sebab yang mendatangkan kemarahan.

Menahan marah merupakan seni yang harus dimiliki oleh setiap kita yang tinggal di bumi Allah ini, karena kita bisa melihat orang-orang yang tidak bisa menahan marahnya justru banyak membuat kerusakan dan penghancuran dimana-mana. Hal ini bisa kita lihat dalam Al-Qur’an

“Dia berkata: "Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat.” (Al-Naml: 34)

“yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan." (As-Syuara: 152)

“lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu,” (Al-Fajr: 12)

“Dan bila dikatakan kepada mereka:"Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi". Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”. (Al-Baqarah: 11)

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik”. (Al-A’raaf: 56)

“Dan apabila kamu menyiksa, maka kamu menyiksa sebagai orang- orang kejam dan bengis.” (Asy-Syuara: 130)

“Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang- orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat ma'siat?” (Shaad: 28).

Subhanallah, Maha Benar Allah atas segala FirmanNya. Daniel Goleman menyebutkan bahwa orang-orang yang mampu mengendalikan emosinya adalah orang yang memiliki kecerdasan emosi. Beberapa dimensi kecerdasan emosi yang dikemukakan oleh Daniel Goleman yaitu, kesadaran diri (self Awareness) – meliputi aspek penyadaran emosi, assesment diri, percaya diri – dan pengelolaan diri – meliputi aspek kontrol diri, mempercayai dan dipercayai, disiplin dan tanggung jawab – kesadaran sosial – meliputi aspek Empati, orientasi pelayanan, dan penyadaran organisasi – dan kemampuan sosial – meliputi mempengaruhi, komunikasi, dan mengelola konflik – .

Oleh karenanya Rasulullah Saw memberikan kiat-kiat praktis kepada kita secara Spiritual dan Psikologis tentang seni untuk membahagiakan diri dan mengendalikan marah secara pribadi dan sosial. Secara umum beberapa rumus yang dianjurkan oleh Nabi untuk membahagiakan diri yaitu:

1. Mengucapkan salam. “Rasulullah saw. bersabda: Seorang pengendara hendaknya mengucapkan salam kepada pejalan kaki dan pejalan kaki mengucapkan salam kepada orang yang duduk dan jamaah yang beranggota lebih sedikit mengucapkan salam kepada jamaah yang beranggota lebih banyak”. (Shahih Muslim No.4019).

2. Menjauhi berbisik-bisik. “Rasulullah saw. bersabda: Apabila terdapat tiga orang, maka janganlah dua orang (di antara mereka) berbisik-bisik tanpa menyertakan yang lain”. (Shahih Muslim No.4052)

3. Menghindari kata-kata negatif. “Rasulullah saw. bersabda: Janganlah sekali-kali salah seorang di antara kalian mengatakan: Sial sekali aku! Akan tetapi sebaiknya dia mengatakan: Diriku tidak mampu lagi menanggung derita ini”. (Shahih Muslim No.4180)

4. Menghindari buruk sangka (Su’udzon). “Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Hindarilah oleh kamu sekalian berburuk sangka karena buruk sangka adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kamu sekalian saling memata-matai yang lain, janganlah saling mencari-cari aib yang lain, janganlah kamu saling bersaing (kemegahan dunia), janganlah kamu saling mendengki dan janganlah kamu saling membenci dan janganlah kamu saling bermusuhan tetapi jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara”. (Shahih Muslim No.4646)

5. Melapangkan urusan saudara muslim. “Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Seorang muslim itu adalah saudara muslim lainnya, dia tidak boleh menzaliminya dan menghinakannya. Barang siapa yang membantu keperluan saudaranya, maka Allah akan memenuhi keperluannya. Barang siapa yang melapangkan satu kesusahan seorang muslim, maka Allah akan melapangkan satu kesusahan di antara kesusahan-kesusahan hari kiamat nanti. Dan barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat”. (Shahih Muslim No.4677).

6. Bersikap lemah lembut kepada siapapun. Rasulullah saw. bersabda: Wahai Aisyah! Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut yang menyukai kelembutan. Allah akan memberikan kepada orang yang bersikap lembut sesuatu yang tidak diberikan kepada orang yang bersikap keras dan kepada yang lainnya. (Shahih Muslim No.4697)

7. Menjauhi rasa dengki, menipu, membenci, menipu, dan mengambil hak orang lain. Dari Abu Hurairah rodhiallohu ‘anhu berkata, Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian saling dengki, jangan saling menipu, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi, dan jangan kalian membeli suatu barang yang (akan) dibeli orang. Jadilah kamu sekalian hamba-hamba Alloh yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lainnya, tidak layak untuk saling menzhalimi, berbohong kepadanya dan acuh kepadanya. Taqwa itu ada disini (beliau sambil menunjuk dadanya 3 kali). Cukuplah seseorang dikatakan jahat jika ia menghina saudaranya sesama muslim. Haram bagi seorang muslim dari muslim yang lainnya, darahnya, hartanya, dan harga dirinya” (HR. Muslim)

Dan masih banyak lagi hadits-hadits lain yang berkenaan dengan rumus kebahagiaan kita di dunia. Nah, apabila marah itu telah mencapai ubun-ubun, para ulama menganjurkan kepada kita untuk melakukan aktivitas berikut:

1. Duduk, jika ketika marah dia dalam keadaan berdiri.

2. Berbaring, jika ketika marah dia dalam keadaan duduk

3. Berwudhu.

4. Mengucapkan kata-kata yang baik (istighfar, dan sebagainya).

Pembaca yang budiman, mungkin inilah hikmahnya Islam dijadikan agama Rahmatan lil aalamin. Karena seluruh sendi-sendi kehidupan mampu diatur dan disentuh, sebagaimana Quraish Shihab pernah mengatakan bahwa “agama itu adalah suatu aturan yang mengikat kita selama 24 jam penuh”, yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia mulai dari ujung kaki sampai urusan peradaban. Sampai-sampai urusan marah pun diatur dalam agama ini. Subhanallah.

“Rasulullah saw. bersabda: Bukanlah orang kuat itu dengan menang bergulat, tetapi orang yang kuat ialah orang yang dapat menguasai dirinya ketika marah”. (Shahih Muslim No.4723)

Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi kita semua. Amin

0 komentar:

Poskan Komentar