Sabtu, 05 Desember 2009

Ghuraba'

Dari ibnu Umar Radhiallahu anhuma beliau berkata: Rasulullah SAW pernah memegang kedua pundakku seraya bersabda, “jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir”, ibnu Umar berkata, “jika engkau berada di sore hari jangan menunggu datangnya pagi dan jika engkau berada di pagi hari jangan menunggu datangnya sore. Pergunakanlah masa sehat sebelum sakit dan masa hidupmu sebelum mati”. (H.R. Bukhari)
Hadits ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh ibnu Umar yang mengandung nasehat Nabi Muhammad SAW kepada beliau (dan ummat Muslimin pada umumnya). Hadits ini menurut syaikh Shalih bin ‘Abdul Aziz Alu Syaikh hafizhohullah dapat menghidupkan hati dan membuatnya lebih mengkilap dan menghilangkan bercak-bercak karat di dalam hati, karena terdapat peringatan kepada kita untuk menjauhkan diri dari tipuan dunia, masa muda, masa sehat, umur dan sebagainya.
Ibnu Umar berkata: “Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah memegang kedua pundakku”, hal ini menunjukkan perhatian yang besar pada beliau, dan saat itu umur beliau masih 12 tahun. Ibnu Umar berkata: “beliau pernah memegang kedua pundakku”. Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau penyeberang jalan”. Jika manusia mau memahami hadits ini maka di dalamnya terkandung wasiat penting yang sesuai dengan realita. Sesungguhnya manusia (Adam –pent) memulai kehidupannya di surga kemudian diturunkan ke bumi ini sebagai cobaan, maka manusia adalah seperti orang asing atau musafir dalam kehidupannya. Kedatangan manusia di dunia (sebagai manusia) adalah seperti datangnya orang asing. Padahal sebenarnya tempat tinggal Adam dan orang yang mengikutinya dalam masalah keimanan, ketakwaan, tauhid dan keikhlasan pada Alloh adalah surga. Sesungguhnya Adam diusir dari surga adalah sebagai cobaan dan balasan atas perbuatan maksiat yang dilakukannya. Jika engkau mau merenungkan hal ini, maka engkau akan berkesimpulan bahwa seorang muslim yang hakiki akan senantiasa mengingatkan nafsunya dan mendidiknya dengan prinsip bahwa sesungguhnya tempat tinggalnya adalah di surga, bukan di dunia ini. Dia berada pada tempat yang penuh cobaan di dunia ini, dia hanya seorang asing atau musafir sebagaimana yang disabdakan oleh Al Musthofa shalallahu ‘alaihi wa sallam (penjelasan hadits arba’in no 40 oleh abu Fatah Amrulloh)
Betapa indah perkataan Ibnu Qoyyim rohimahulloh ketika menyebutkan bahwa kerinduan, kecintaan dan harapan seorang muslim kepada surga adalah karena surga merupakan tempat tinggalnya semula. Seorang muslim sekarang adalah tawanan musuh-musuhnya dan diusir dari negeri asalnya karena iblis telah menawan bapak kita, Adam ‘alaihissalam dan dia melihat, apakah dia akan dikembalikan ke tempat asalnya atau tidak. Oleh karena itu, alangkah bagusnya perkataan seorang penyair:
“Palingkan hatimu pada apa saja yang kau cintai
Tidaklah kecintaan itu kecuali pada cinta pertamamu
Yaitu Alloh jalla wa ‘ala
Berapa banyak tempat tinggal di bumi yang ditempati seseorang
Dan selamanya kerinduannya hanya pada tempat tinggalnya yang semula
Yaitu surga”
Hakikat manusia di atas muka bumi ini adalah seperti layaknya orang asing yang sedang melakukan pengembaraan di sebuah negeri, dimana insting kewaspadaan dan kehati-hatiannya membuat dia menjaga dirinya dengan upaya yang maksimal agar tidak terpedaya (ghurur) dengan tipu dunia dan bisa kembali ke kampung atau negeri asalnya dengan selamat. Seorang pengembara juga adalah orang yang sangat berhati-hati dalam hal memenuhi kebutuhan pribadinya (Primer, sekunder dan tersier), kehati-hatiannya terlihat dari sedikit banyaknya perbekalan yang dia siapkan untuk melakukan pengembaraan di negeri selanjutnya. Pengembara yang cerdas adalah pengembara yang mempersiapkan perbekalan seadanya (tidak berlebihan dan tidak mencintai dunia), sedangkan pengembara yang ceroboh adalah pengembara yang membawa seluruh barang (dunia) ke dalam perbekalannya.
“Aku dan dunia ibarat orang dalam perjalanan menunggang kendaraan, lalu berteduh di bawah pohon untuk beristirahat dan setelah itu meninggalkannya”. (HR. Ibnu Majah)
Renungkanlah hadits di atas ini, bahwasanya manusia seharusnya lebih banyak mengingat kampung kekal (akhirat) dibandingkan kampung yang hanya disinggahinya (dunia)! Oleh karena itu, benarlah apa yang dikatakan oleh Syaikhul Islam kepada kita bahwa kebutuhan manusia yang paling tinggi adalah kebutuhan pada syari’at Islam dibandingkan dengan kebutuhan makan, minum, dan seks. Hal tersebut dikarenakan banyak orang yang bisa menahan makan dan minum serta seks, tapi untuk membayangkan kehidupan yang tidak diatur oleh Islam, ibarat jalan raya yang tidak memiliki rambu-rambu lalu lintas.
Alangkah indahnya apa yang dikatakan oleh Nabi Saw kepada kita
“Sesungguhnya Allah melindungi hambaNya yang mukmin dari godaan dunia dan Allah juga menyayanginya sebagaimana kamu melindungi orangmu yang sakit dan mencegahnya dari makanan serta minuman yang kamu takuti akan mengganggu kesehatannya”. (HR. Al Hakim dan Ahmad)
Mari kita pertebal tali ketaqwaan kita kepada Allah SWT agar kita menjadi pengembara yang cerdas dan tetap berorientasi pada kampung kita yang abadi, kampung yang pernah ditinggali oleh Adam As, yaitu Surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, dipenuhi dengan bidadari-bidadari dan pemuda-pemuda yang melayani kita, dipenuhi dengan makanan yang tidak ada habisnya, dan paling utama adalah berkumpul dengan kekasih kita Rasulullah SAW beserta para sahabat-sahabatnya. Allahumma Inna Nas’aluka Ridhaka wal jannah, wa na’udzubika min sakhatika wan naar.
Referensi:
Syaikh Shalih Alu Syaikh Hafizhohullah. Ringkasan syarah Arba’in An-Nawawi
Ibnul Qoyyim. Taman para Pencinta.

0 komentar:

Poskan Komentar