Selasa, 12 Juli 2011

MENGATASI PERILAKU BERMASALAH SISWA



Sebaik apa pun anda merancang dan menciptakan lingkungan kelas yang positif perilaku bermasalah pada siswa atau murid akan muncul. Anda harus menghadapinya dengan cara efektif dan tepat waktu.
STRATEGI MANAJEMEN KELAS
Pakar manajemen kelas Carolyn Evertson dan rekannya membedakan antara intervensi minor dan moderasi dalam menangani perilaku bermasalah.

INTERVESI MINOR
Beberapa masalah hanya membutuhkan intervensi minor atau kecil. Masalah-masalah yang kerap muncul biasanya mengganggu aktifitas belajar di kelas. Misalnya, murid mungkin ribut sendiri, meninggalkan tempat duduk tanpa ijin, bercanda sendiri, atau memakan permen di kelas. Strategi yang efektif antara lain adalah:
Gunakan isyarat non verbal
Jalin kontak mata dengan murid. Kemudian beri isyarat dengan meletakkan telunjuk jari di bibir anda, menggeleng kepala, atau menggunakan isyarat tangan untuk menghentikan perilaku tersebut.
Terus lanjutkan aktifitas belajar
Biasanya terjadi suatu jeda dalam transisi aktifitas dalam kegiatan belajar mengajar, dimana pada jeda tersebut murid tidak melakukan apa-apa. Pada situasi ini, murid mungkin akan meninggalkan tempat duduknya, mengobrol, bercanda dan mulai ribut. Strategi yang baik adalah bukan mengkoreksi tindakan mereka tetapi segera melangsungkan aktifitas baru berikutnya.
Mendekati murid
Saat murid mulai bertindak menyimpang. Anda cukup mendekatinya, maka biasanya dia akan diam.
Arahkan perilaku
Jika murid mengabaikan tugas yang kita perintahkan, ingatkan mereka tentang kewajiban itu. Anda bisa berkata, “Baiklah, ingat, semua anak harus menyelesaikan soal matematika ini.”
Beri instruksi yang dibutuhkan
Terkadang siswa melakukan kesalahan kecil saat tidak memahami cara mengerjakan tugas. Untuk mengatasinya anda harus memantau murid dan memberi petunjuk jika dibutuhkan.
Suruh murid berhenti dengan nada tegas dan langsung
Jalin kotak mata dengan murid, bersikap asertif, dan suruh murid menghentikan tindakannya. Buat pernyataan, singkat dan pantau situasi sampai murid patuh. Strategi ini bisa dilakukan dengan mengkombinasikan strategi mengarahkan perilaku murid.
Beri murid pilihan
Berilah murid tanggung jawab dengan memilih dua pilihan, bertindak benar atau menerima konsekuensi negatif. Beri tahu murid apa tindakan benar itu dan apa konsekuensi bila melanggar.
INTERVENSI MODERAT
Beberapa perilaku yang salah membutuhkan intervensi yang lebih kuat ketimbang yang baru saja dideskripsikan pada intervensi minor di atas, misalnya, ketika murid menyalahgunakan aktifitasnya, mengganggu, cabut dari kelas, mengganggu pelajaran, atau mengganggu pekerjaan murid lainnya. Berikut adalah strategi yang bisa dilakukan:
Jangan beri privilese atau aktifitas yang mereka inginkan
Bila anda memperbolehkan murid untuk berkeliling kelas atau mengerjakan tugas dengan murid lain dan ia malah menyalahgunakan privilese yang anda berikan atau mengganggu pekerjaan temannya, maka anda bisa mencabut privilesenya.
Buat perjanjian behavioral
Buatlah perjanjian yang bisa disepakati oleh semua murid. Perjanjian ini harus merefleksikan masukan dari kedua belah pihak yaitu guru dan murid. Jika muncul problem dan murid tetap keras kepala, guru bisa merujuk pada kesepakatan bersama yang telah dibuat.
Pisahkan atau keluarkan murid dari kelas
Bila murid bersenda gurau dan bersikap tidak mengindahkan peringatan, anda bisa memisahkan ia dari murid disekitarnya ataupun mengeluarkannya dari dalam kelas.
Kenakan hukuman atau sanksi
Menggunakan hukuman sebaiknya tidak melakukan tindakan kekerasan, tetapi bisa dilakukan dengan memberikan tugas mengerjakan soal atau menulis halaman tambahan.
Daftar Pustaka
Santrock, John, W. 2007. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Kencan Prenada Media Group

KEBUTUHAN HAMBA

KEBUTUHAN HAMBA
Manusia adalah makhluk yang lemah, adakalanya ia sering berbuat khilaf dan dosa dengan sadar ataupun tanpa disadarinya, namun sebaik baiknya orang yang berbuat dosa adalah yang selalu memohon ampunan atas segala dosa yang ia lakukan. Istighfar merupakan salah satu jalan untuk memohon ampunan-Nya. Istighfar mempunyai kedudukan yang tinggi dalam diri seorang hamba, bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala memadukannya dengan iman ketika berbicara tentang kaum kuffar:
“Dan tidak ada sesuatupun yang menghalangi manusia dari beriman, ketika petunjuk telah datang kepada mereka, dan dari memohon ampun kepada Tuhannya, kecuali (keinginan menanti) datangnya hukum (Allah yang telah berlalu pada) umat-umat yang dahulu atau datangnya azab atas mereka dengan nyata”. (QS. Al-Kahf : 55)
Tidak ada seorangpun yang terbebas dari dosa, dan itu wajar sebagai bagian dari fitrah insaninya. Oleh karena itu, manusia senantiasa wajib bertaubat dan beristighfar.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31).
Dan dalam ayat yang lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (QS. At-Tahrim: 8).
Taubat nasuha –sebagaimana di katakan oleh Imam Ibnu Katsir – yaitu taubat yang murni dan sungguh-sungguh yang dapat menghapus kejelekan-kejelakan yang telah dikerjakannya. Mampu mencegahnya dari perbuatan-perbuatan yang hina, berlepas diri dari perbuatan dosa, menyesali dosa-dosa yang telah lalu, dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi.
Imam Muslim Rahimahullah meriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari Radhiyallahu ‘Anhu dari Nabi Shalallahu’alaihi wa Salam, beliau bersabda, “Allah membentangkan tangan-Nya di malam hari agar orang-orang yang berbuat dosa di siang hari bertaubat, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala membentangkan tangan-Nya di siang hari agar orang-orang yang berbuat dosa di malam hari bertaubat, -hal ini terus berlaku- hingga matahari terbit dari barat.”
Beliau juga meriwayatkan dari Al-Aghar Al-Mazni Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu’alaihi wa Salam bersabda, “Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sesungguhnya aku bertaubat kepada-Nya seratus kali setiap hari.”
Wahai kaum muslimah, bersegeralah untuk bertaubat, jangan kau akhirkan atau menundanya, karena menundanya merupakan kebinasaan dan akan menjauhkanmu dari jalan takwa.
Ibnu Qayyim Rahimahullah berkata, “Bersegera untuk bertaubat dari perbuatan dosa merupakan kewajiban yang harus segera ditunaikan dan tidak boleh ditunda-tunda. Menundanya berarti telah bermaksiat. Jika bertaubat dari perbuatan dosa -setelah menunda taubat-, maka ada taubat lain yang harus dilaksanakan; yaitu bertaubat karena telah menundanya. Sedikit sekali orang bertaubat yang menyadari hal ini. Maka solusi agar selamat dari kesalahan ini, hendaknya bertaubat secara umum, baik dosa yang diketahui maupun yang tidak diketahuinya.
Istighfar mempunyai banyak faedah baik didunia maupun diakahirat, faedah tersebut ada yang memanag langsung kita rasakan dan ada juga yang diakhirkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sampai hari kiamat. Ibnu Taimiyah Rahimahullah menyebutkan di dalam bukunya tentang buah dan faedah yang dapat kita ambil dari kita melakukan amalan ini, di antaranya ialah:
1. Diampuninya dosa-dosa. Siapa yang mengakui dosanya dan juga meninggalkannya, maka dia akan diampuni. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang“(QS. An-Nisa : 110)
2. Ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kecintaan-Nya. Istighfar merupakan perkara yang penting, sehingga seorang hamba bisa mendapatkan ridha dan kecintaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
3. Memperoleh rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. FirmanNya, Hendaklah kalian meminta ampun kepada Allah Ta’ala, agar kalian mendapat rahmat (QS. An-Naml :46).
4. Membebaskan diri dari adzab. Istighfar merupakan sarana yang paling pokok untuk membebaskan diri dari adzabnya, sebagaimana firman-Nya, Dan tidaklah Allah Ta’ala akan mengadzab mereka, sedang mereka meminta ampun (QS. Al-Anfal:33).
5. Istighfar mendatangkan kebaikan yang banyak dan juga barokah. Firman Allah Ta’ala, Dan (dia berkata),’Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Rabb kalian lalu bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang deras kepada kalian, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatan kalian (QS. Hud:52).
Didalam firman-Nya yang lain, Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Rabb kalian’, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan kepada kalian hujan dengan lebat, dan akan membanyakkan harta dan anak-anak kalian, dan mengadakan untuk kalian kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untuk kalian sungai-sungai’ (QS. Nuh:10-12).
6. Kebeningan hati. Karena istighfar dapat menghapus dosa dan mengenyahkannya. Maka hati pun menjadi bersih dan bening dari noda dosa serta kedurhakaan.
7. Istighfar merupakan kebutuhan hamba yang berkelanjutan. Dia membutuhkannya menjelang siang dan malam, bahkan istighfar senantiasa dibutuhkan dalam setiap perkataan dan perbuatan, kala sendirian maupun ramai, karena di dalamnya mengandung kemashlahatan, mendatangkan kebaikan, menyingkirkan kemudhoratan, menambah kekuatan amal hati dan badan serta keyakinan iman.
8. Mendatangkan sikap lemah lembut dan baik tutur katanya. Siapa yang ingin agar Allah Ta’ala memperlakukannya dengan lemah lembut, maka dia harus senantiasa bersama-Nya. Istighfar dapat menjadikan seorang hamba lemah lembut, baik tutur katanya, karena dia biasa mengucapkan kebenaran dan menjelaskannya.
9. Memperbanyak ibadah dan zuhud di dunia. Istighfar membutuhkan penyesalan dan taubat, sehingga ia menuntut pelakunya lebih banyak beribadah. Firman Allah Ta’ala, Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu menghapuskan kesalahan-kesalahan (QS. Hud: 114).
Banyak faedah yang didapatkan dari istighfar, tentunya semakin sering kita beristighfar semakin dekat kita kepada Sang Khalik, hal tersebut hendaknya dilakukan secara mudawamah -terus menerus-. Sesungguhnya kita adalah makhluk yang lemah kita membutuhkan istighfar sebagaimana makan dan minum. Istighfar melepaskan hamba dari perbuatan yang makruh menjadi mahbub (yang dicintai), yang kurang menjadi lebih sempurna, mengangkatnya ke derajat yang lebih tinggi. Wallahu a’lam.

Jumat, 07 Januari 2011

Ilmuan islam perintis medis


Peradaban Barat kerap mengklaim bahwa Philipe Pinel (1793) merupakan orang pertama yang memperkenalkan metode penyembuhan penyakit jiwa. Tak cuma itu, Barat juga menyatakan rumah sakit jiwa (RSJ) pertama di dunia adalah Vienna’s Narrenturm yang dibangun pada tahun 1784. Benarkah klaim peradaban Barat itu?
Klaim itu tentu sangat tak berdasar. Sebab, jauh sebelum Barat mengenal metode penyembuhan penyakit jiwa berikut tempat perawatannya, pada abad ke-8 M di Kota Baghdad. Menurut Syed Ibrahim B PhD dalam bukunya berjudul “Islamic Medicine: 1000 years ahead of its times”, mengatakan, rumah sakit jiwa atau insane asylums telah didirikan para dokter dan psikolog Islam beberapa abad sebelum peradaban Barat menemukannya.
Hampir semua kota besar di dunia Islam pada era keemasan telah memiliki rumah sakit jiwa. Selain di Baghdad ibu kota Kekhalifahan Abbasiyah insane asylum juga terdapat di kota Fes, Maroko. Selain itu, rumah sakit jiwa juga sudah berdiri di Kairo, Mesir pada tahun 800 M. Pada abad ke-13 M, kota Damaskus dan Aleppo juga telah memiliki rumah sakit jiwa.
Mari kita bandingkan dengan Inggris. Negara terkemuka di Eropa itu baru membuka rumah sakit jiwa pada t1831 M. Rumah sakit jiwa pertama di negeri Ratu Elizabeth itu adalah Middlesex County Asylum yang terletak di Hanwell sebelah barat London. Pemerintah Inggris membuka rumah sakit jiwa setelah mendapat desakan dari Middlesex County Court Judges. Setelah itu Inggris mengeluarkan Madhouse Act 1828 M.
Lalu bagaimana peradaban Islam mulai mengembangkan pengobatan kesehatan jiwa? Menurut Syed Ibrahim, berbeda dengan para dokter Kristen di abad pertengahan yang mendasarkan sakit jiwa pada penjelasan yang takhayul, dokter Muslim justru lebih bersifat rasional.
Para dokter Muslim mengkaji justru melakukan kajian klinis terhadap pasien-pasien yang menderita sakit jiwa. Tak heran jika para dokter Muslim berhasil mencapai kemajuan yang signifikan dalam bidang ini. Mereka berhasil menemukan psikiatri dan pengobatannya berupa psikoterapi dan pembinaa moral bagi penderita sakit jiwa.
”Selain itu, para dokter dan psikolog Muslim juga mampu menemukan bentuk pengobatan modern bagi penderita sakit jiwa seperti, mandi pengbatan dengan obat, musik terapi dan terapi jabatan,” papar Syed Ibrahim.
Konsep kesehatan mental atau al-tibb al-ruhani pertama kali diperkenalkan dunia kedokteran Islam oleh seorang dokter dari Persia bernama Abu Zayd Ahmed ibnu Sahl al-Balkhi (850-934). Dalam kitabnya berjudul Masalih al-Abdan wa al-Anfus (Makanan untuk Tubuh dan Jiwa), al-Balkhi berhasil menghubungkan penyakit antara tubuh dan jiwa. Ia biasa menggunakan istilah al-Tibb al-Ruhani untuk menjelaskan keseharan spritual dan kesehatan psikologi.
Sedangkan untuk kesehatan mental dia kerap menggunakan istilah Tibb al-Qalb . Ia pun sangat terkenal dengan teori yang dicetuskannya tentang kesehatan jiwa yang berhubungan dengan tubuh. Menurut dia, gangguan atau penyakit pikiran sangat berhubungan dengan kesehatan badan. Jika jiwa sakit, maka tubuh pun tak akan bisa menikmati hidup dan itu bisa menimbulkan penyakit kejiwaan, tutur al-Balkhi.
Menurut al-Balkhi, badan dan jiwa bisa sehat dan bisa pula sakit. Inilah yang disebut keseimbangan dan ketidakseimbangan. Dia menulis bahwa ketidakseimbangan dalam tubuh dapat menyebabkan demam, sakit kepala, dan rasa sakit di badan. Sedangkan, ketidakseimbangan dalam jiwa dapat mencipatakan kemarahan, kegelisahan, kesedihan, dan gejala-gejala yang berhubungan dengan kejiwaan lainnya.
Dia juga mengungkapkan dua macam penyebab depresi. Menurut dia, depresi bisa disebabkan alasan yang diketahui, seperti mengalami kegagalan atau kehilangan. Ini bisa disembuhkan secara psikologis. Kedua, depresi bisa terjadi oleh alasan-alasan yang tak diketahui, kemukinan disebabkan alasan psikologis. Tipe kedua ini bisa disembuhkan melalui pemeriksaan ilmu kedokteran.
Selain al-Balkhi, peradaban Islam juga memiliki dokter kejiwaan bernama Ali ibnu Sahl Rabban al-Tabari. Lewat kitab Firdous al-Hikmah yang ditulisnya pada abad ke-9 M, dia telah mengembangkan psikoterapi untuk menyembuhkan pasien yang mengalami gangguan jiwa. Al-Tabari menekankan kuatnya hubungan antara psikologi dengan kedokteran.
Menurut dia, untuk mengobati pasien gangguan jiwa membutuhkan konseling dan dan psikoterapi. Al-Tabari menjelaskan, pasien kerap kali mengalami sakit karena imajinasi atau keyakinan yang sesat. Untuk mengobatinya, kata al-Tabari, dapat dilakukan melalui ”konseling bijak”. Terapi ini bisa dilakukan oleh seorang dokter yang cerdas dan punya humor yang tinggi. Caranya dengan membangkitkan kembali kepercayaan diri pasiennya.
Melalui kitab yang ditulisnya yakni El-Mansuri dan Al-Hawi , dokter Muslim legendaris al-Razi juga telah berhasil mengungkapkan definisi symptoms (gejala) dan perawatannya untuk menangani sakit mental dan masalah-masalah yang berhubungan dengan kesehatan mental.
Al-Razi juga tercatat sebagai dokter atau psikolog pertama yang membuka ruang psikiatri di sebuah rumah sakit di Kota Baghdad. Pemikir Muslim lainnya di masa keemasan Islam yang turut menyumbangkan pemikirannya untuk pengobatan penyakit kejiwaan adalah Al-Farabi. Ilmuwan termasyhur ini secara khusus menulis risalah terkait psikologi sosial dan berhubungan dengan studi kesadaran.
Selain itu, Ibnu Zuhr, alias Avenzoar juga telah berhasil mengungkap penyakit syaraf secara akurat. Ibnu Zuhr juga telah memberi sumbangan yang berarti bagi neuropharmakology modern. Yang tak kalah penting lagi, Ibnu Rusyd atau Averroes ilmuwan Muslim termasyhur – telah mencetuskan adanya penyakit Parkinson’s.
Sejarawan Francis Bacon menyebut Al-Haitham sebagai ilmuwan yang meletakkan dasar-dasar psychophysics dan psikologi eksperimental. Berdasarkan hasil penelusuran yang dilakukannya, Bacon merasa yakin bahwa Al-Haitham adalah sarjana pertama yang berhasil menggabungkan fisika dengan psikologi, dibandingkan Fechner yang baru menulis Elements of Psychophysics pada tahun 1860 M. Begitulah, kedokteran dan psikologi Islam mengembangkan pengobatan penyakit jiwa.

SEGERALAH TERANGI KEGELAPAN

“Siapa yang bisa menandingi wahai anak cucu Adam dalam hal bertaubat ?Engkau bisa datang ke mihrab kapanpun engkau mau, untuk menghadap Tuhanmu. Tak ada apapun yang membatasi antara dirimu dan tuhanmu. Tak ada perantara. Tak ada penterjemah.” ( Bakr bin Abdillah Al Muzani)

“Jangan melangkah di jalan keputusasaan. Di alam ini terhampar berjuta harapan. Jangan pergi ke arah kegelapan. Di alam ini teradapat banyak cahaya…” Kalimat ini di tulis besar-besar di sebuah papan tulis oleh seorang ulama. Sebelum menuliskan papan indah itu, dikisahkan seorang muridnya bertanya, “wahai syaikh, bila engkau sudah tidak lagi bersama kami, kalimat apa yang dapat kami pegang untuk berhasil menjalani hidup ini?”

Semoga Allah masih mempersatukan hati kita, wahai saudaraku
Putus asa simbol ketidak berdayaan dan gelap adalah simbol kesesatan. Dalam hidup ini, ternyata ada sebagian orang yang lebih cenderung asyik dengan keputusasaan, kekecewaan dan kehilangan harapan. Meskipun kalau mau, dia bisa mendapatkan banyak keadaan yang membuatnya optimis, bersemangat dan penuh harapan. Ternyata memang ada pula sekelompok orang yang cenderung asyik berada dalam gelap. Meskipun kalau mau, dia sebenarnya bisa mengetahui betapa luasnya hidup dan betapa banyak cahaya yang bisa menerangi jalan dihadapannya. Orang yang sudah putus harapan dan lebih suka berada dalam kegelapan adalah kelompok orang yang sama sekali tak merasakan bahagia dan indahnya hidup.
Sederhana sekali ibnul Qoyyim rahimahullahu taala memberi jawaban tentang sumber kebahagiaan hidup, “Allah”. Orang yang telah memiliki rahasia kebahagiaan itu, menurut ibnul Qoyyim, akan menjadi raja di dunia dan di akhirat. Di dunia, orang itu disegerakan oleh Allah memperoleh surga dunia, dan di akhirat Allah menyediakan surga Akhirat. “Hatinya memandang, kefakiran adalah kekayaan sesaat dirinya bersama Allah. memandang kekayaan itu kefakiran saat dirinya tidak bersama Allah. Kemuliaan itu hina tanpa Allah. Kehinaan itu mulia bersama Allah. Kenikmatan itu adzab tanpa Allah. Adzab itu nikmat bersama Allah. Kesimpulannya ia tidak melihat kehidupan kecuali dengan Allah. Merekalah orang-orang yang telah mendapatkan dua surga. Surga di dunia yang disegerakan Allah ketika dia hidup di dunia dan surga di akhirat yang menantinya”. (Nafa-5is al-Fawaid, 202)
Saudaraku.
Tanamkan keyakinan bahwa Allah bersama kita, ketergantungan hati kepada Allah, sebagaimana diuraikan ibnul Qoyyim, hanya bisa dimiliki oleh seseorang yang sungguh-sungguh mendidik jiwanya. Membina dan mendidik jiwa dengan selalu mengaitkan segala persoalan dari sudut yang benar.
Kebenaran memandang hidup itulah yang menjadikan seseorang ketenangan jiwa, ketentraman, kebahagiaan, perasaan lezat dan iman. Apapun yang terjadi. Seperti diungkapkan ibnul Qoyyim. Selanjutnya, “Orang-orang seperti ini tidak merasa gelisah ketika orang lain gelisah. Tidak takut ketika orang lain takut, tidak menangis ketika orang lain menangis. Wajah dan hati mereka bersinar karena cahaya Allah. Lisan mereka tidak lepas dari dzikir kepada Allah. Hati mereka dekat dengan masjid. Mereka sungguhsungguh berpacu dengan waktu mengisi catatan amal mereka di hari akhir, disanalah inti kebahagiaan”.
Saudaraku,
Keputusasaan bisa saja terjadi tanpa disadari. Begitupun kegelapan. Kerap kali kegelapan itu melalaikan. Seperti orang mabuk, tak sadar dirinya mabuk. Keburukan selalu menarik pelakunya untuk melakukan keburukan yang lain dan menjadikan pelakunya lupa akan apa yang dilakukan. Perhatikan firman Allah swt dalam surah Ash-Shaff ayat 5 yang artinya: “Maka ketika mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka (dari kebenaran)”.
Tapi jangan lupa, prinsip itu juga berlaku dalam kebaikan. Kebaikan selalu mendorong pelakunya untuk melakukan kebaikan yang lain, sehingga menjadikan pelakunya selalu bersemangat untuk melakukan kebaikan demi kebaikan. “Jika engkau melihat seseorang melakukan keburukan, ketahuilah bahwa keburukan itu mempunyai saudara-saudara keburukan yang lain. Dan jika engkau melihatnya melakukan kebaikan, maka ketahuilah kebaikan itu akan mempunyai saudara-saudara kebaikan yang lain,“ kata Zubair bin Awwam (tahdzibu tahdzib 7/183).
Said bin Zubair, salah seorang imam generasi tabi’in mengatakan, “Sesungguhnya termasuk pahala kebaikan adalah kebaikan setelahnya. Dan sesungguhnya termasuk akibat keburukan adalah keburukan setelahnya.” (Majmu fatwa Ibnu Taimiyah 10/11).
Syaikh Muhammad Ahmad Rasyid, penulis kitab al-awa’iq, mengisahkan sebuah ironi. Saya, tulisnya, telah menyaksikan langsung bagaimana orang-orang yang berada dalam komunitas orang-orang baik kemudian mengundurkan diri dari lingkungan itu. Ia kecewa dan putus asa karena keinginannya tidak ia peroleh. “Selanjutnya orang itu dimulai tidak melakukan amar ma’ruf, lalu meninggalkan sholat wajib dan mencukupkan diri hanya sholat jumat saja. Tak sampai disitu akhirnya ia juga tidak puasa di bulan ramadhan bahkan kemudian menjadi terbiasa melakukan sesuatu yang membatalkan puasa di siang hari. Ia menghisap rokok dengan tenang dan menghembuskan asapnya kepada orang-orang yang berpuasa.”
Saudaraku,
Iman dan hati kita ibarat pelita. Bila cahayanya meredup berarti kita akan larut dalam gelap dan kehilangan petunjuk dalam menjalani kehidupan. Dan semakin cahayanya menyala, berarti kita semakin bisa melihat segala sesuatu dihadapan kita dengan jelas.
Wajar saja bila pelita itu meredup, karena memang begitulah tabiat iman sebagaimana yang digambarkan oleh rasulullah saw, bahwa iman itu terkadang bertambah dan berkurang. Tapi tentu kita harus berupaya agar ia tidak meredup terus menerus bahkan padam. Hanya ada satu cara untuk menyalakan kembali pelita yang meredup itu: taubat.
Seorang ulama Bakr bin Abdillah al-Muzani menegaskan, “Siapa yang bisa menandingi wahai anak cucu Adam dalam hal bertaubat ?Engkau bisa datang ke mihrab kapanpun engkau mau, untuk menghadap Tuhanmu. Tak ada apapun yang membatasi antara dirimu dan tuhanmu. Tak ada perantara. Tak ada penterjemah.”

Minggu, 31 Januari 2010

islam is the best way of life


Al-Qur’an adalah karya teragung dari Allah SWT. Bagi orang Islam kitab ini adalah Kalam Allah yang diturunkan kepada Muhammad SAW melalui malaikat Jibril. Kitab ini banyak mengisahkan tentang kerasulan Musa as, Isa as, dan nabi-nabi yang lain dari Allah. Dan Qur’an melengkapi semua ajaran-ajaran sebelumnya.
Nabi Muhammad SAW dinilai oleh orang-orang pemikir (yang berasal dari non muslim) sebagai orang yang memiliki pribadi yang agung sepanjang sejarah kehidupan manusia. Walaupun agama ini seringkali diserang, sekarang Islam tetap merupakan agama yang memiliki pertumbuhan paling cepat di dunia.
Injil diturunkan kepada manusia selepas taurat diserang dan diubah di babylonia. Kemudian Injil diubah dan diganti oleh Romawi, Yahudi korupsi, orang-orang konstantin, raja-raja dan gereja-gereja. Turunlah Qur’an. Dan kali ini Allah berjanji akan memelihara kitab suci ini hingga akhir zaman.
Akhirnya, Qur’an begitu lekat di kepala (baca, ingatan) orang mukmin dari dulu hingga sekarang. Sehingga sulit untuk disusupi dan diubah oleh orang-orang yang mau merusakinya.
Tapi sayang, pesan Islam yang sebenarnya jarang sekali diamalkan oleh mayoritas muslim. Mungkin jika diamalkan, pastilah kita hidup dalam dunia yang lebih aman. Kesalahan yang mungkin dilihat oleh orang luar tentang agama ini, adalah kesalahan orang muslim sendiri dan bukan agama islam!
Mari kita baca ungkapan indah dari Malcolm X (seorang pejuang diskriminasi kulit hitam) tentang Islam!
“kamu pasti terkejut dengan kata-kata ini, tapi saya telah makan dalam piring yang sama, minum dengan gelas yang sama, dan menyembah Tuhan yang sama dengan orang Islam yang matanya biru, rambutnya pirang, dan kulitnya sangat putih….dan kami semua bersaudara. Benar, manusia dari berbagai warna kulit dan bangsa percaya dan meyakini pada satu Tuhan, satu kemanusiaan. Setiap detik di tanah suci ini membolehkan saya mendalami lagi penghayatan saya berdasarkan apa yang terjadi di Amerika. Masyarakat negro amerika tidak boleh dipersalahkan karena dendam atas perlakuan rasis terhadap kaumnya. Mereka hanya menuntut balas terhadap tindakan rasis yang menindas mereka selama 400 tahun. Tapi, walaupun dasar rasis telah membawa Amerika ke lorong kemanusiaan, saya percaya generasi muda kulit putih Amerika akan melihat tulisan pada dinding dan banyak yang akan berpaling kepada aspek spiritualitas sebagai jalan yang lurus. Satu-satunya penyelesaian yang harus diselesaikan oleh dunia adalah menyisihkan malapetaka dan penderitaan yang disebabkan oleh asas rasis. Dengan jujur dan ikhlas, saya tidak menginginkan apapun, kecuali kebebasan, keadilan, kesamarataan, kehidupan dan kebahagiaan kepada semua masyarakat. Apa yang paling meresahkan kami adalah ketika hak asasi kami dirampok dan dicabuli. Saya hanya sangat percaya dengan amalan Islam yang sebenar-benarnya, dapat membuang penyakit rasis dalam hati-hati rakyat Amerika. Jika saya boleh berharap mati membawa cahaya kebenaran Islam, yang boleh menolong mereka untuk menghapus penyakit ini, segala usaha yang baik itu datang dar Allah, Tuhan semesta alam. Dan segala kesalahan itu datang dari saya pribadi.”
Akan selalu kita ingat……Pemimpin yang paling jujur, bersemangat, dan bertenaga di zaman kita ini Malcolm X atau Al-Hajj Malik al-Shabazz (1925-1965). Dia terbunuh di saat pidato terakhirnya, dibunuh oleh orang munafik yang menyamar di dalam kegiatan ceramahnya. Begitulah orang-orang yang diliputi dengan kebenaran di dunia akan selalu diuji dengan harta dan jiwanya….
Oleh sebab itu ya ikhwanul muslimun…..teruslah mengkaji secara bersama-sama, agar kita mengetahui bagaimana Islam dicabuli oleh musuh-musuhnya sepanjang generasi


Temmy Andreas Habibie

Senin, 28 Desember 2009

tanggung jawab untuk mengkaji psikologi terorisme


Kita masih mengingat peristiwa 11 september 2001, dimana pada saat itu terjadi sebuah peristiwa yang sangat dramatik, dan membawa kita para penduduk dunia memasuki sebuah era baru, yaitu era terorisme.
Terorisme memiliki beragam definisi, mulai dari pandangan secara ekonomi, politik, dan budaya. Dalam kamus miriam webster collegiate dictionary terorisme didefinisikan sebagai usaha untuk memberikan ketakutan, kepanikan dan rasa kekhawatiran pada masyarakat secara sistematik dengan menggunakan kekerasan. Pelaksanaan teror tersebut biasanya dilakukan secara samar-samar dan sangat tersembunyi.
Kalau kita melihat dari definisi di atas, sebenarnya telah terjadi revolusi penggunaan istilah teroris. Dahulu di masa perang dunia ke dunia, NAZI dikenal sebagai biang teror di antara negara-negara yang ada pada saat itu. Dimana organisasi ini melakukan pembunuhan secara massal dan massive pada warga keturunan Yahudi dengan alasan bahwa Yahudi merupakan keturunan ras manusia paling terbelakang di antara ras-ras yang lain. Kemudian kita pun masih ingat di era perang dunia ke dunia dimana Amerika memerangi Jepang dengan menggunakan bom atom yang dijatuhkan di daerah Hiroshima dan nagasaki, dimana korban yang jatuh mencapai kurang lebih dari 250 ribu orang. Kemudian Israel yang merupakan warga pengungsian keturunan Yahudi yang dipindahkan sementara di daerah Palestina, melakukan agresi militernya kepada warga asli palestina, sehingga luas daerah kekuasaan Israel semakin melebar di tanah palestina, dan palestina semakin menyempit dan warga palestina pun semakin menderita dibuatnya.
Istilah terorisme memang mengalami revolusi dalam berbagai pandangan, akan tetapi kita sebagai mahasiswa Psikologi patut mencari tahu bagaimana pandangan psikologi terhadap terorisme itu sendiri, sehingga kita bisa melakukan intervensi dan penanganan secara langsung maupun tidak langsung untuk mengantisipasi penyebarluasan aksi-aksi terorisme ini. Dan tentunya kita sebagai mahasiswa yang beragama Muslim hendaknya menjadi bahan kajian bagi diri kita untuk membersihkan nama Islam dari tuduhan-tuduhan yang tidak bertanggung jawab.

Kamis, 10 Desember 2009

OPTIMALISASI FUNGSI BIMBINGAN KONSELING DI SEKOLAH


Belakangan ini marak terjadi kasus-kasus kenakalan remaja, mulai dari perkelahian geng dan sekolah, perilaku mesum dan kemaksiatan, penggunaan Narkoba dan Alkohol, serta seks bebas di kalangan pelajar. Kasus-kasus yang tidak tampak pun kiranya semakin muncul di atas riak-riak air sistem pendidikan di negeri kita, dimana siswa yang tidak memenuhi standar nilai yang ditetapkan oleh DEPDIKNAS semakin banyak dan sulit untuk membendungnya.
Sampai dengan akhir September 2003 kasus AIDS yang dilaporkan pada kelompok umur 0 – 29 tahun sebesar 49,8 % dari keseluruhan kasus AIDS yang dilaporkan. Prosentase ini mungkin akan terus meningkat seiring dengan meningkatnya penggunaan napza suntik yang mayoritas dilaporkan pada kelompok berumur kurang dari 25 tahun. Oleh karena itu kita menyadari bahwa remaja sangat rentan tertular HIV/AIDS antara lain karena kelompok remaja tersebut sudah mulai aktif secara seksual, penyalahgunaan napza suntik, kekerasan seks dan rendahnya pengetahuan kesehatan reproduksi termasuk HIV/AIDS (IFPPD, 2008).
Kasus-kasus yang terdata tersebut tentunya tidak sebanyak kasus-kasus yang belum terungkap atau masih terselip dalam dinding-dinding sekolah. Ibarat gunung es, bagian gunung yang terdapat di bawah air justru lebih besar dibanding yang terlihat di atas air.
Rasa iba, kasihan, dan prihatin tentunya tidak cukup untuk menyelesaikan masalah ini. Mengingat betapa semakin besar tantangan yang akan dihadapi oleh bangsa ini di tahun-tahun mendatang, hal ini harus dituntaskan segera.
Pertama, Kita harus sepakat bahwa anak adalah bahan baku mentah yang siap diolah dan dibuat sedemikian rupa untuk penyiapan iron stock (meminjam istilah mahasiswa) di masyarakat, yang memiliki tugas untuk melanjutkan kerja-kerja peradaban bangsa ini ke depan. Oleh karenanya, anak yang lahir di atas dunia ini memiliki potensinya masing-masing yang siap dikelola dan diproses oleh institusi pendidikan. Potensi-potensi yang dimiliki oleh anak yaitu, kognitif, afektif, dan konatif. Kognitif adalah ranah kognisi atau pikiran yang di dalamnya berfungsi untuk mengolah hal-hal yang diperolehnya dari lingkungan apakah sesuai dengan logika atau tidak. Afektif adalah ranah perasaan yang di dalamnya terdapat emosi-emosi – berupa cinta, marah, takut, dan sebagainya – yang berfungsi sebagai alat penangkap dan penyebaran bahasa-bahasa non verbal dalam komunikasi intrapersonal maupun interpersonal, dan sebagai media untuk menentukan sikap terhadap suatu keadaan. Konatif adalah aspek perilaku yang ada pada diri anak. Tidak ada anak yang bodoh, inilah yang dikemukakan oleh pakar Multiple Intelligence Howard Gardner dalam bukunya. Karena potensi yang dimiliki anak adalah anugerah yang diberikan oleh Allah SWT untuk dikembangkan.
Kedua, kita juga harus sepakat bahwa keluarga merupakan institusi pendidikan pertama bagi anak. Dimana pengajaran nilai-nilai, norma-norma, aturan, dan agama menjadi tugas bagi keluarga untuk mengembangkannya di dalam diri anak. Jangan pernah berharap bahwa anak adalah robot yang telah memiliki sejumlah program yang telah dibawanya dari lahir, akan tetapi anak ibarat kertas putih yang siap diisi dengan tulisan, warna maupun corak-corak yang bisa menjadi bekal baginya di masyarakat.
“Tiap bayi dilahirkan dalam keadaan suci (fitrah-Islami). Ayah dan ibunya lah kelak yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi (penyembah api dan berhala)”. (HR. Bukhari)
Ada fenomena lucu yang terjadi di masyarakat kita, betapa beberapa kalangan orang tua kita melepaskan tugas dan tanggung jawabnya terhadap anak – hanya dengan alasan pekerjaan – kepada Babysitter dan playgroup. Padahal Lorentz menyatakan dalam teori ikatan (bonding theory) yaitu anak akan mengikuti pola yang diajarkan oleh orang yang mendidik dan membesarkannya. Jangan heran kalau anak-anak kita lebih dekat dengan pembantu atau babysitter kita, karena memang dari awal kita sudah menunjukkan betapa jauhnya jarak kita dengan anak. Sehingga kita harus menyadari bahwa anak adalah amanah yang diberikan oleh Allah kepada kita untuk kita didik dan kita besarkan dengan penuh kebaikan. Sebagaimana firman Allah SWT:
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (at-Tahrim: 6)
Ketiga, kita mesti sepakat bahwa sekolah adalah produsen atau sebuah pabrik yang akan mengolah bahan mentah (anak) tersebut menjadi sebuah bahan jadi yang bisa bermanfaat bagi dirinya sendiri dan bagi masyarakatnya. Sekolah merupakan Institusi pendidikan kedua setelah keluarga, dimana nilai-nilai edukasi diajarkan dan dibentuk pada diri anak mulai dari tingkat sekolah dasar sampai tingkat Lanjut. Pendidikan dan pengajaran menjadi fungsi utama dari sekolah. Sayang, banyak sekolah yang hanya menjalankan fungsi yang kedua, yaitu pengajaran. Sehingga beberapa guru merasa senang dan bangga kalau murid-muridnya kurang berhasil dalam mengerjakan soal ujian yang dibuatnya. Fenomena ini akhirnya membentuk persepsi sosial anak bodoh dan anak pintar.
Anak yang pintar dalam persepsi guru adalah anak yang berhasil menjawab persoalan logis-matematis dan bahasa (bahasa asing), padahal potensi-potensi anak yang lain belum tergali, sehingga kesempatan mereka untuk berkembang menjadi terbatas karena gurunya yang membatasinya. Jika anda memiliki persepsi ini, maka anda salah besar. Karena tugas guru adalah memberikan pemahaman edukasi kepada anak sesuai dengan potensinya masing-masing. Cara guru yang terkesan tradisional dalam penyampaian informasi juga terkadang menjadi hambatan bagi siswa untuk belajar. Sistem “catat bahan sampai abis”, ceramah yang monoton tanpa diberikan “bumbu-bumbu” humor atau contoh-contoh yang aktual membuat siswa semakin jenuh dan memberontak untuk tidak belajar di kelas.
Inilah problema yang tidak pernah tuntas dalam sistem pendidikan kita. Tentu tidak adil ketika kita mau membuat suatu standarisasi nilai atas satu makhluk yang memiliki kompleksitas kognisi, afeksi, dan konasi di dalam dirinya!
Karena penjabaran angka-angka matematis yang ada di sistem sekolah pun, alhasil hanya digunakan sekian persen di dalam masyarakat kita. Ditambah lagi dengan label-label yang diberikan kepada siswa sebagai anak malas, anak bodoh, anak nakal dan sebagainya, membuat masalah menjadi rumit.
Oleh karena itulah sekolah harus memiliki pemahaman bahwa merekalah adalah pabrik, dimana di dalamnya akan mencetak anak-anak yang cerdas dan berbobot yang bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat.
Fungsi Bimbingan Konseling pun menjadi aspek yang penting pula dalam pengembangan sekolah yang holistik. Karena Bimbingan Konseling adalah wadah dimana siswa yang unik (kita ganti istilah anak malas, bodoh, dan nakal menjadi siswa unik) dianggap sama dengan siswa yang berprestasi dalam bidang akademik. Kita bisa melihat betapa di Bimbingan Konseling di negara-negara Eropa dan Amerika memberikan sebuah inovasi yang besar dalam dunia pendidikan. Dimana siswa-siswa yang memiliki masalah diidentifikasikan potensinya, BUKAN MASALAHNYA, sehingga BK bisa memberikan rekomendasi khusus kepada sekolah untuk menjadikan bakat ataupun potensinya sebagai sarana baginya untuk mengubah citra dirinya yang semula negatif menjadi positif.
Fungsi bimbingan konseling yang lain pula adalah memberikan masukan kepada pihak sekolah mengenai rancangan kurikulum sekolah yang humanis dan progresif, sehingga arah kurikulum sekolah mengacu pada hak asasi manusia bukan pada instalisasi software program pada manusia seperti robot. Sehingga bimbingan konseling melakukan evaluasi-evaluasi terhadap pola pendidikan dan pengajaran guru, perkembangan prestasi anak (lewat wali kelas), dan penelitian-penelitian yang bersifat eksperimental untuk pengembangan sekolah menuju ke arah yang baik.
Bimbingan sekolah harus mengoptimalisasi fungsinya sebagai sponsor untuk memberikan pengembangan pada diri anak. Pencarian-pencarian LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), klub-klub akademik, pencinta alam, kesehatan, agama, dan lainnya, serta event-event regional, nasional dan internasional untuk mendukung pengembangan potensi anak.
Fungsi yang lain adalah, bersama-sama dengan sekolah mendesain tempat pembelajaran yang menarik, nyaman dan kondusif untuk berlangsungnya proses belajar mengajar. Sekolah bisa membuat improvisasi di setiap kelas untuk duduk di lantai atau belajar di alam terbuka, sehingga proses transfer informasi pada siswa bisa berlangsung dengan baik.
Keempat, kita harus sepakat bahwa masyarakat merupakan aspek yang cukup signifikan dalam perkembangan peserta didik. Keamanan, keadilan, kenyamanan dan budaya menjadi faktor penting dalam perkembangan peserta didik. Sehingga menjadi tugas pemerintah adalah menjadikan masyarakatnya sebagaimana masyarakat yang madani dan humanis. Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an (surah Shaad: 26):
“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan”
Akhirnya, dengan memperhatikan 4 aspek tersebut, insya Allah bisa menuntaskan beberapa permasalahan pendidikan kita di Indonesia. Penulis juga merasa bahwa tulisan ini masih memiliki kekurangan, yang disebabkan oleh masih kurangnya pengetahuan penulis tentang masalah ini. Apabila ada kebenaran yang tersampaikan itu semua berasal dari Allah SWT. Semoga ada hikmahnya.